Thursday, 26 August 2010

SHALAT TARAWEH IBARAT NAIK BUS UMUM

-->
Trans Surga:
Ada beberapa bus dan juga beberapa sopirnya, semua bus tersebut memiliki tujuan yang sama namun memiliki jalan dan cara mengemudi yang berbeda, dan hebatnya bus-bus tersebut dapat menampung sebanyak-banyaknya penumpang.
Kita sebagai penumpang bebas mau naik bus yang mana, kebanyakan dari bebrapa bus yang terkenal tersebut hanya dimiliki oleh dua perusahaan besar, misalnya saja bus 23 dan bus 11. Bus 23 memilih jalan panjang namun pengemudinya mengemudi dengan cemat disertai cemilan-cemilan kecil, sedangkan bus 11 memilih jalur pendek diemudikan dengan santai dan menikmati perjalanan.
Shalat taraweh yang kita ketaui bersama ada yang 23 rakaat dan ada 11 rakaa (kebanyakan), dan keduanya memiliki dalil yang sama kuat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi terserah kita mau memili atau mengikuti yang mana, dan yang paling penting harus diyaini dan dikerjakan.
Namun di sini saya melihat permasalahan yang kurang tepat, yaitu penumpang naik bus 11 mau sampai etujuan naik bus 23, yang artinya cepat namaun kurang tepat. Coba bayangkan penumpang 11 naik bus 23, tentunya ia akan berhenti di 8 (di tengah jalan), syukur-syukur kalau dilanjutkan dengan witirnya! Apa bias dikatakan sampai tujuan? Jadi setelah smapai 8 banyak penumpang 11 atau 8 yang turun, jadi bus longgar. Padahal bus 11 dengan 23 akan tiba hamper bersamaan ketujuan, ya mungkin terselisih beberapa saat saja!
Dari ilustrasi di atas kita dapat memikirkan, yang mana akan kita tumpangi dan yang paling penting kita harus tepat naik bus tersebut. Janagn memudah-mudahkan karena agama kita agama yang mudah artinya tidaka memberatkan kita sebagai pemeluknya.
Wallahua’lam!!!!!!!!!
by: Roniansyah

Thursday, 19 August 2010

INVENTARISASI ISLAM MASUK KE INDONESIA


A. INVENTARISASI ISLAM MASUK KE INDONESIA

Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya.foot

Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

1. Teori Gujarat

Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:

a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.

b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa.

c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat. foot

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

2. Teori Makkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:

a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.

b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.

c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.foot

Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke- 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

3. Teori Persia

Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:

a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.

c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda bunyi Harakat.

d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.

e. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat. foot

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali
yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:

1) Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur.

2) Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.

3) Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).

4) Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.

5) Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik)

6) Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.

7) Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.

8) Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.

9) Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon)

Wednesday, 11 August 2010

Hati


-->
HATI
Rasulullah Saw bersabda:
“Ketahuilah, bahwa di dalam ajsad ada segumpal darah. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah HATI”.
H
ati merupakan raja yang diangkat untuk anggota seluruh badan dan mengabdi kepada semuanya. Ia ada di bagian tengah, seakan dikelilingi, dikerumuni semua anggota badan, berada di tempat yang mulia.

Hati menjadi penegak kehidupan, sumber ruh hewani dan kehangatan naluri, tambang akal, ilmu, kelembutan, keberanian, kemuliaaan, kesabaran, ketenangan, cinta, kehendak, ridha, marah, dan sifat kesempurnaan.

Seluruh anggota badan, yang di luar maupun di dalam serta segala kekuatannya merupakanpasukan hati

Mata menjadi pasukan pengintainya dan front di depan yang membuka jalan. Jika melihat sesuatu, ia langsung melaporkannya ke hati. Karena kuatnya hubungan antara keduanya, maka apapun yang tampak di depan mata langsung masuk ke dalam hati. Jadi mata merupakan cermin bagi hati, kemudian hati mengarikannya, sebagaimana lisan juga menjadi penerjemahannya dan penerjemah bagi pendengaran. Maka dari itu Allah sering menghubung-hubungkan tiga perangkat ini atau dua diantaranya di dalam kitab-Nya seperti firman-Nya,
“SESUNGGUHNYA PENDENGARAN, PENGLIHATAN, DAN HATI SEMUANYA ITU AKAN DIMINTA PERTANGGUNGJAWABANNYA”. (AL-ISRA 36)

Monday, 3 August 2009

SANG PEMBAHARU HMJ TMTK


KITA PASTI BISA DO WHAT YOU CAN DO, DONT.................................... SAY I CAN't

hobi baru


sekarang aku punya hobi baru yaitu maen musik!
bersama tema-teman walaupun semuanya pada baru belajar
kemarn baru pertama kali ke studio musik,katro abiees

dan berencana mau bikin band.
tapi belum punya nama silahkan k'lo ada masukan.

Thursday, 16 July 2009

MUSAFIR CINTA

Bermula dari Iwan dan Deden yang menjadi pemantau pilpres di daerah kal-teng, terus jalan-jalan ke Palangkaraya dan berencana keliling banua lima/anam.
Berangkatlah dari Palangka menuju Banjarmasin dan tiba waktu magrib, lanjut lagi besok (Jumat) menuju Kandangan (rumah Hafizh), kira-kira jam 11 tiba di sana, jumatan disana, lanut lagi perjalanannya ke Barabai, setelah Ashar tiba singgah di rumah Ummi, minum-minum, berangkat lagi menuju Birayang tepatnya Desa Cukan Lipai (rumah Roni), bermalam di sana sambil menyusun rencana menuju Balangan menuju rumah pujaan hati Iwan di Hukai.
Jam 9 berangkat, sebelumnya singgah di Barabai di rumah keluarganya Deden. Kemudian go lagi menuju Balangan, disana aku mendapat pengalaman baru dimana Hafiz menyerahkan kemudinya ke Aku, padahal aku baru bisa pake kendaraan dan ga pernah bejalan jauh. Ya udah Bismillah. Lepas dari Ilung, Batu Mandi, masuk Paringin di sana jalannya WAH!!! Bagiku, aspal baru, licin, pengunungan, penuh liku-liku, aku merasa takut karena baru kali ini mengemudi motor dengan jalan yang turun tanjak, he. Sampai di Paringin masuk menuju Hukai.
Tak disangka ternyata terjadi miskomunikasi antara kami dengan Hafiz, yang pertama bertjuan ke Hukai di Kec. Juai, tapi Hafiz beranggapan Hukai letaknya setelah Halong, ia menghubungi temannya di sana (Arlong), kami juga kurang tahu ya ikut aja. Sampai di jembatan ternyata jauh terlewat jalan menuju Hukai, perut lapar, ya udah kita ikut Hafiz ke Halong, minum-minum sekitar 1 jam. Pasang jaket mau pamitan ternyata dicegat ortunya, katanya kunsumsi siang udah siap. He. Shalat zhuhur di sana, makan siang terus berangkat lagi menuju Hukai (rumah Eka) tidak lain tidak bukan adalah kekasih Iwan. Sempai disana minum-minum, terus pamitan mau pulang menuju Amuntai, kebetulan jalannya lewat Lampihong, kita putuskan lagi tuk mampir di rumah Yadi, minum-minum lagi, shalat ashar di sana, waktu mau pamitan kembali lagi disuguhi lontong, makan lagi bo!
Di sana lah kami diberi gelar Musafir Cinta, karena jauhnya perjalanan+miskomunikasi, sementara menuju Lampihong juga salah jalan (mengambil jalan yang jauh), he. Kemudian berangkat lagi menuju Amuntai, magrib baru tiba di sana, dan juga kami mengambil jalan yang jauh lagi sakit. Huogh!
Istirahat di sana sambil canda-canda menyusun rencana besok menuju Banjarmasin. Besoknya berangkat singgah di rumah Eek, di sana kami disuguhi kelapa muda yang diminum langsung dari buahnya, mengasyikkan. Lanjut lagi menuju rumah Hafiz, shalat zuhur di sana, makan siang, lanjut lagi perjalanannya menuju Banjarmasin.
Who! Pengalaman mengasyikkan.